“PoLusi”
Polusi,
polusi, polusi
Dendang
suarapun terjadi
Kau
tutup hati tetap membisu
Terus
melaju menuju kehancuran
Keasrian
kau terjang
Kebersihan
kau hadang
Keabadian
pun kau tentang
Terus
... tak henti-henti
Tanpa
karya & Prakarsa
Seakan
hati tak mau mengerti
Wahai
para pemuda
Jangan
hanya berpangku tangan
Ayo
berjuang, perangi polusi dalam negeri
=(Unik J/XI A 1, wisanggeni
edisi Maret 2006)=
“KABUT
MEGA BERTANDING”
Begitu erat
kebhinekaan kita pegang
Begitu kuat
keramahsantunannya
Adalah pelangi
dimata dunia
Musim berlalu,
waktupun berlalu
Klasik telah
menjadi modern
Namun sayang
beribu sayang
Alam ini tiada
menyayang
Kini ...
Diujung pinus
sana
Kabut menepi
mega bertandang
Halilintar
seraya memecah sepi
Air menyapu
tiada bersisa
Kini...
Setiap hari
kita disuguhi berita kematian
Banjir,
longsor, sudah biasa
Ratusan nyawa
manusia tewas
Menjadi
nyanyian kewajaran
Betapa hidup
kita kian tak berbudaya
Kini ...
Hari demi hari
mereka hitung
Jejak yang
hilang
Mereka
mengais, mengorek mencari makan
Hati ingin
menjerit ... ingin sekali menangis
Namun air mata
tlah hilang
Wahai para
budiman
Masihkah kau
dengar nyanyian mereka
Sampai kapan m’reka menunggu
Uluran
tangan-tangan bijak darimu....
=(Redaksi, wisanggeni edisi
Maret 2006)=
“Sebuah Harapan”
Air mata berjatuhan
Dengan hati sedih dan berduka
Di saat seutai nyawa
Hilang dengan percuma
Terdengarlah suara tangis
Htipun gelisah
Dengan suatu harapan
Yang kini hilang tak tersisa
Tuhan berbicara
Kepada hambanya yang tabah
Dengan nyawa hilang percuma
Digantinya dengan kehidupan terang
Cahaya impian
Kini tak tersisa
Darah suci mengalir
Dari ujung rambut sampai ke kaki
Dengan rasa bimbang
Berdoa
dengan seimbang
Bagai bintang
Memberi penerang
=(wisanggeni edisi
Maret 2006)=
“KATA HATI”
Saat kulihat
bayangmu
Seperti bunga
yang tak pernah layu
Pada saat
bunga-bunga bermekaran
Engkau
tersenyum dengan senang
Awan hitam
menjadi terang
Badaipun hilang
dengan sekejap
Matahari
terbenam
Bulan &
bintang kan datang
Melihat matamu
yang bersinar terang
Air mata ...
Kini habis tak
tersisa
Ketika malam
kerinduan datang
Hati trasa
gelisah
Apakah ....?!!!
Engkau jauh
disaat aku dekat
Dan juga bila
Engkau dekat di
saat aku jauh
Adakah ....
?!!! Arti perumpamaan ini,
Tanpa didasari
dengan .... ?!
Cinta yang suci
& tulus.
=(wisanggeni edisi
Maret 2006)=
“HANYA”
Langit
terbentang luas
Jauh
memandang mata
Seakan
jauh melihat
Angan
hanya sebatas asa
Itulah
kita
Bagai
burung kecil berkicau
Yang
didengar tak ada harga
Mengadu
entah kemana
Burung-burung
kecil
Tetaplah
berkicau
Walau
sangkar menunggu
Dan
jadi penjaramu
=(Bpk. Balok Edi Waluyo, Spd, wisanggeni edisi
Juni 2006)=
“Mencintai mu”
Aku coba tuk pergi
Tinggalkan rasa ini sendiri
Aku tau ....
Dia ada
Aku tau ....
Dia merasa
Tapi ....
Aku tak ingin memilikinya
Aku utak ingin sakitinya
Aku han ya ingin ....
Aku mencintainya sendiri
Mencintai dengan caraku
Mencintai dengan hati ku
Walau aku merasa
angin-angin ini
Menerpaku
Walau aku merasa hujan ini
Menghuyurku
Meski tak sanggup ku
berdiri
Ku tegakkan kaki ini
Ku teguhkan hati yang lesu
ini
Dengan begitu aku merasa
Dia milikku slalu
Berada jauh dalam hatiku.
=(Fika (Reds), wisanggeni edisi Juni 2006)=
“Hembusan Angin Rebahkan Secuil Angin”
Wajah layu bertirai sendu
Terdengar sayup selagi rindu
Akan ada kebahagiaan
Akan ada kedamaian
Disaat mentari tertutup awan
Dan bukan tak malas lagi
Aku terguncang
Terlepas badai lunglai
Diam pasrah dalam belaian kasihmu
Terhenti langkahku di sini
Ditengah keramaian mengadu wajib
Mencari pengertian dan kepercayaan
Untuk diriku sendiri
Semoga menjadi titian yang makin dewasa ini
=(Eko F (Reds), wisanggeni edisi Juni 2006)=
“Sahabat
Sejati”
Kala kuhirup udara pagi
Kulihat embun membasahi dedaunan
Adanya embun dipagi hari
Tak ku mengerti apa makna yang terkandung
Adanya sang Dewa dan sang Dewi
Mereka diciptakan untuk hidup bersama
Diwaktu kusedih
Kau alunkan melodi suara merduku
Sehingga aku mampu tuk mengubah
Bibir ini bagai bunga
Bermekaran dimusim semi
Oh ... sungguh indahnya
Diwaktu ku bahagia
Kau berikan suasana kehangatan
Bersama iringan kata-kata mutiaramu
Smua tercipta karna kebaikan
Yang datang dari lubuk hatimu
Kini ku tlah mengerti
Kau ada untuk menemani diri ini
Kusadari, kau adalah bagian dari hatiku
Sahabat sejati selalu mengerti ,, selalu dihati.
HAI
......................
Melayang terbang dihimpit awan
Menendang lagu, lagu melayang
Rasa hampa terasa riang
Rasa riang terasa pedih menghalang
Hai .....
Tutup rasa sayang dalam kalbu
Kabut yang indah terbuang membisu
Karena ku tak bisa memiliki awan
Biar rasa awan bebas menghadang
Jangan biarkan awan terbang
Pegang teguh awan
Sampai hati terasa riang
=(M.S.U/XI-AI, wisanggeni edisi Juni 2006)=
“Harapan
Kosong”
Selama ini ku tunggu
Sekian lama kunanti
Balas cinta dan kasih darimu
Kepastian yang kubayangkan
Ternyata sebatas anganku
Mimpi itu tak terjamah
Hasrat ini tak sampai tujuan
Walau dekat kau terasa jauh
Kau...
Yang telah membuatku sadar arti
Hidup dan persahabatan
Kini bersama orang lain
Aku yang termangu menunggu
Baru menyadari
Yang kutunggu hanya sebuah
Harapan kosong
Kepergian seseorang yang kita sayangi
Karena memilih orang lain, kadang membuat kita
Merasa tak ada lagi makna hidup
Rasa itulah yang kini kurasakan
Rasa putus asa, kecewa dan sedih
Aku ....
=(wisanggeni edisi Oktober 2006)=
“I m p i a n H
i d u p”
Aku ingin hidup bebas
Ubah semua semaunya
Adil hanyalah milikku
Sabdaku bagai sabda raja
Perkataanku tak seorangpun menolak
Semua hal mustahil menjadi mungkin
Namun semua impian belaka
Bukan kenyataan dalam hidupku
Kiranya takdir enggan buatku sengsara
Jalan sulit pun dapat ku tempuh
Banyak rintangan dapat ku lewati
Layaknya burung terbang bebas
Bisakah hal ini terjadi
Jerat aturan selalu menjeratku
=(wisanggeni edisi Oktober 2006)=
“Untuk Kau Baca”
Kutuangkan perasaanku
Dalam deretan kata-kata
Kutuangkan isi hatiku
Dalam barisan kalima
Kata demi kata kurajut
Kurajut menjadi kalimat
Kalimat demi kaimat kususun
Kususun menjadi sebuah puisi
Cinta dapatkah kau mendengar
Mendengar bisikan hatiku
Cinta dapatkah kau melihat
Melihat besar bunga bunga cinta dalam hatiku
Cinta dapatkah kau merasakan
Merasakan hembusan nafasku
Cinta taukah engkau
Disetiap detak jantungku
Disetiap tembusan nafasku
Hanya ada namakku
=(Yuliandri P.W, wisanggeni edisi Oktober 2006)=
“GEJOLAK
KAWULA MUDA”
Gulita malam
Hitam suram
berawan
Tak sebutir
tampakkan intan
Memancar deras
tandas
Sungguh malam
yang pekat
Sepakat jiwa
tekad
Melangkah erat
penuh hasrat
Selangkah jjiwa
putus asa
Gejolak seorang
muda
Penuh dengan tali
rasa
Menyala-nyala
sepanjang dada
Penuh dengan
mutiara kata
Dibalik kesemua
itu
Nampak kuasa
rayuan demi rayuan
Nyatakan diri
indah gagah
Ternyata hanya
penuh tipu daya
Segala dusta yang
tanpa mata.
=(Koirun Nikmah, wisanggeni edisi Februari 2007)=
“L O
V E”
You face always in my dream
Every day .....
I always wait for you
Wish you come to me
Do you now?
When i need you
Shine form your eyes
Make me long for you
Come to me my love
Bring your heart for me
=(Tutik, wisanggeni edisi Februari 2007)=
“PEMBARINGAN
TERAKHIR”
Kasih ...
Tenanglah kau di
rumah suci-Mu
Selamanya cinta
ini hanya milikmu
Tunggulah aku
disana
Ku akan datang
menjemputmu secepatnya
Datanglah padaku
jika jiwamu rindu
Dan belailalh aku
jika ragamu kesepian
Dunia ini terlalu
kejam bagiku
Ku tak mampu
menjalani menjalani sendiri
Tanpa mu kasih ...
Tapi Tuhan berkata
lain
Kau lebih memilih
dirinya
Daripada rintihan
hati ini
Mungkin ...
Ini jembatan
perpisahan kita
Cinta suci yang ku
simpan untuk mu
Tak mampu
mengembalikan ragamu di pelukku
Semoga kau bahagia
di sana
Malaikat-malaikat
kecil ku
Akan menemanimu
setiap waktu
Di pembaringan
terakhirmu
Ku hanya bisa
berdoa
Semoga kau
mendapatkan cinta suci
Yang belum kau
rasakan dari ku.
=(Efieta Dwi Septatian, wisanggeni edisi April 2007)=
“I
Want You To Know”
Love
...
I
never call you
I
never hope you
But
suddenly you come to me
I
know ...
You
give me beautiful hope
You
give me unforgettable momont
You
make me see ...
How
beautiful my world is but why ...?
Suddenly
you go away
You
give me sadnnes
You
make me angry
And
you make me cry
Love
...
I
want you to know
I
need you stay in my world
Although
you often make me desperate
=(wisanggeni edisi April 2007)=
“W A K T U”
Keindahan tlah sirna
Tak terlihat dengan mata
Hanya ketakutan ... kegelisahan
Yang hadir dalam pikiran
Tersandar dalam lamunan
Bahwa hidup hanya permainan
Semua penyesalan
Selalu datang terlambat
Ketika waktu itu datang
Tak ada yang bisa dilakukan
Kecuali memohon ampunan
=(Tutik, wisanggeni edisi April 2007)=
“ANDAIKU TAHU”
Andai kau tak
pernah hadir
Dalam waktu dan
hidupku
Andai kau tak
bersikap
Seakan aku tak
pernah ada
Andai kau tak pernah
Mengungkap isi hatimu
Pasti, pasti aku tak
Kebingungan saat ini
Aku bingung ...
Bagaimana aku
harus bersikap
Padahal engkau
sendiri acuh
Aku bingung ....
Bagaimana aku
harus memulai tuk bicara
Padahal engkau
sendiri diam seribu bahasa
Aku bingung ...
Adakah yang aneh
dalam diriku??
Kau menyapa
temanku,
Tapi ... mengapa
tidak padaku
Hanya untuk
sehari saja, aku terima
Tapi ... jika
begini untuk selamanya
tak usah kau
ungkapkan itu
=(Cella, wisanggeni edisi Agustus 2007)=
“D O A”
Bersujud aku disini
Dalam hening di malam sepi
Dalam pancaran sinar –Mu yang suci
Sembari menadahkan kedua tanganku
Yang penuh nada dan dosa!
Mulutku yang selalu berdusta
Menyebut nama-Mu dengan lirih
Ku akui ...
Rintihan hati ini
Tak mampu menghapus
Semua dosa-dosaku
Tapi apa daya ...
Hanya penyesalan inilah
Yang bisa kulakukan
Untuk menghapus semua ...
Semua noda dan dosaku
Di masa silam
=(Efieta Dwi Septatian, wisanggeni edisi Agustus 2007)=
“SALAM RINDU”
Jangan biarkan mimpi
Hanya sebatas angan-angan belaka
Bila kasih memang untukku
Mengapa tak kau biarkan kisah ini
Tumbuh jadi satu
Hanya engkau yang tahu pasti
Isi dan maksud hati
Tolong bisikan padanya
Bahwa rindu dan kasih hati ini
Ku persembahkan untuk dia ...
=(Johan Angga, wisanggeni edisi Agustus 2007)=
“F R I E N D”
Friend ...
This is very difficult to ask
Can I together with you until next?
I hate my self
I can’t give you a happiness
Friend ...
Give me a sorry
Cause I know you are beauty place
Place which give me laugh and cry
Which make my life become happy
In this time I only can ask
Thank’s so much
And I sit inside you are die place
“darling”
Kiss kindness friendly
=(wisanggeni edisi Agustus
2007)=
“KARENA CINTA”
Disela-sela kesibukan dunia
Manuasia sibuk memahami
Makna cinta
Para pengukir hati
Tak henti menenangkan diri
Apa cinta itu?
Cinta hanyalah perasaan sayang
Yang selalu berlebihan
Cinta tumbuh karena adanya
Perhatian ...
Kenapa cinta harus ada?
Karena manusia butuh sebuah rasa
Rasa yang mampu membuat bahagia
Apakah cinta adalah air mata?
Tentu ...
Karena cinta ...
Manusia tertawa, tersenyum, menangis, merenung
...
Karena cinta ...
Terkadang sikap manusia tak biasa di logika
Percaya semua pada hati
Agar cinta kekal abadi
=(View-rie, wisanggeni edisi Agustus 2007)=
“DALAM RINDU”
Desir angin
membelai angan
Dalam hening
malam
Berdetak hatiku
kencang
Senyum manismu
selalu
Terbayang
Walau kau
tak sempat
Terucapkan
Tapi hati
mencoba ungkapkan
Engkaulah
...
Hadirmu
selalu kunantikan
Dalam rindu
ku terdiam
Menatap indah
bayangan
Yang tak
sempatku dapatkan
=(wisanggeni edisi Agustus
2007)=
“MY SOUL”
Love ...
Where you
bring my heart?
Give you
way
When our
heart can to be one
I want to
feel love again
But ...
why ...
Only fragance
sent to me?
Silence ...
Is your
answer?
Please,
look my eyes!
You will
find,
How much
word can’t I say
Do you
know why?
Coz you
are my soul...
Only you
can take my heart
Please,
don’t leave me
Alone ...
=(wisanggeni edisi Agustus
2007)=
“Kerinduan”
Desah malam
Senada sendu
alunan jiwa
Yang merasuk
ke dasar
Nuraniku ...
Ingin ku
tepis bayang wajahmu
Yang selalu
menggoda angan
Dalam hening
malam ini ...
=(wisanggeni edisi Agustus
2007)=
“Mengharap Kasih Sayang –Nya”
Hamba
tetap jauh menyelam
Terkenang
sisa-sisa perasaan
Yang kini
masih terpendam
Yang tak
mungkin dapat kulukiskan
Dalam benak
angan hampa
Hanya rintihan
pada Tuhan
Walau kehendak
hati menangis
Tersayat hidup
dalam dunia fana
Yang selalu
menyengat diri hamba
Begitu kejinya
alam
Tanpa nampak
belas kasihan
Hamba tahu
perasaan luarnya
Tapi sulit
menduga dalamnya
Namun hamba
mengharap
Kasih sayang
engkaulah lebih besar
Dari manusia
Dalam hati
hamba berbisik
Untuk apa
kita mengejar barang sekejap
Bila segalanya
sia-sia belaka
Bukankah itu
kelak akan sirna?
Tak mungkin
diri-Nya menerima
Apa yang
telah dibuat mereka
Selama hidup
di surga dunia
Mengekang
kebahagiaan nirwana
=(Nikmah (Redaksi),wisanggeni
edisi Agustus 2007)=
“ItuKaH
$aHaBaT”
Sahabat
....
Apakah
arti sebenarnya itu?
Dikala
karang menghadang
Kau tak
datang membawa bantuan
Sahabat
....
Kau dekat
denganku
Disaat suka
singgah di hatiku
Kau acuh
padaku
Jikalau duka
menjemputku
Itukah arti
seorang sahabat?
Sahabat ....
Dihadapanku,kau
bertingkah seolah
Kau bagai
kelinci
Sedang dibelakangku
kau bagai
serigala
yang tak tahu norma
Apakah
kau pantas ku sebut sahabat?
=(Yayan (Redaksi), wisanggeni
edisi Agustus 2007)=
“Duniaku Lagi Patah Hati”
Kenapa yang patah Cuma hati?
Kata yang tak asing lagi
Kenapa yang patah bukan kaki?
Selalu saja ..., hati ...
Untuk kita yang selalu dicap sebagai laki-laki
Hati seorang gadis dalam diri, hanyalah
Sedang tidur
Tapi, saat tergugah kata “CINTA”
Saat itulah, gadis terlihat
Sampai kapan kau tak tahu?
Wanita kan cantik sekali
Bila sedang jatuh cinta
Sampai kapan aku menangis?
Salah bila aku menangis!
Kenapa lagi kutangisi?
Harusnya kau yang menangis!
Kenapa?
Padahal aku sudah melupakanmu
Bodoh!
Perasaan sungguh ini tak sirna juga
Tersembunyi dilubuk hati terdalam
Bagai harta karun
Biarlah....
Meski berpisah
Kita, para orang yang masuk dalam
Dunia “Patah Hati”
Tak akan merasa kesepian
Jika ada senyum di wajah
Selamanya ... jadi,
Selamat tinggal
=(Pink-innocent, wisanggeni
edisi Maret 2008)=
“S E S A L”
Setiap ku menatap matamu
Yang kutemukan hanya sepi
Setiap ku masuki hatimu
Yang ku dapat hanya hampa
Setiap ku masuki jiwamu
Yang ku temui hanya kosong
Ini adalah salahku
Dan ini juga salahmu
Kita sama-sama mengalami duka
Duka rindu sang kekasih
Kini
Hatiku dan hatimu semakin jauh
Meski raga kita bersatu
Ku tak bisa menemukan hatimu
Kenapa jiwamu bersembunyi dariku?
Mungkin ....
Saat kau temukan ragaku kelak
Hanya rasa sesak
Jerit dan tangis
Yang kau lakukan untukku
Rasa kecewa yang kurasa
Tak kan mampu,
Kau tebus dengan tangismu
Dukamu dan penyesalanmu
Dan ....
Rasa ini akan ku bawa pergi
Jauh ....
Hingga kau tak mampu
Menemukan jiwa dan ragaku.
=(Efieta Dwi Septatian, wisanggeni edisi Maret
2008)=
“Cinta yg Tertunda”
Hari-hari
demikian ... berlalu demikian
Semilir
angin berlalu demikian
Deburan
ombak berlalu demikian
Sekian
hari sekian jam sekian waktu ...
Jantung
berdegup kencang memandang seseorang
Entah apa
sebabnya ...
Terlintas
bayangan membahana di sanubari
Membayang
sang dewi yang terjun di kejauhan
Hati
tertambat entah kapan
Sampai
sang waktu berlalu dikejauhan
Surya
timbul tenggelam sekian lama
Dada pun
tiada pernah terhenti mengalunkan irama
Deguban
kencang yang tiada berarah
Sampai
sang dewi hilang entah kemana
Kini dia
datang membawa segumpal harapan
Kesenangan
yang dulu ... kekencangan hati berdegup ... di kalbu
Membawa
cinta diharibaan sang pemilik cinta
Kapankah
kan datang ... cinta yang belum
Sempet
kuucapkan
Sanggupkah
aku mengatakan ...
Karena
desiran angin kencang yang syarat
Kerinduan
membaur
Tanpa
bisa aku hempaskan
Tegarkah
aku saat aku mengatakan ... bahwa
Aku cinta
padamu ...
=(Tirani, wisanggeni edisi Maret 2008)=
“Puisi Hati”
Ku ungkapkan kata bernafaskan cinta
Bertaburkan rindu dan kasih
Debar jantungku begitu cepat
Bagaikan kilat yang mewarnai rintik hujan
Hatiku kini berselimutkan cinta
dan kabut rindu
kabut rindu yang begitu tebal
Rindu yang tak hentinya
menyerang tubuhku, menusuk tulangku,
membekukan darahku
Dan hingga aku menggigil menunggumu
Rindu akan sentuhan sutramu
Rindu akan belaian madumu
Rindu akan mahkota senyummu
dan rindu akan semua darimu
sampai kapan kau jauh?
Kau bagaipurnama menerangi
gulita di atas medan cintaku
Bertemu denganmu adalah anganku
Kini tak ada lagi kata
Selain menunggu mu bersama waktu dan cintaku
Datanglah .........!!!
Hatiku merindukanmu ..........
=(Cietra, wisanggeni edisi Maret 2008)=